Monday, 31 December 2012

Upah Toleransi



(Belajar dari konflik Suriah)

Ketika konflik Suriah pecah dan terjadi pembantaian besar-besaran terhadap penduduk yang tidak berdosa, termasuk anak-anak dan wanita yang dilakukan pemerintah, saya sempat bertanya langsung kepada seorang teman berkebangsaan Suriah yang kebetulan berada dalam satu departemen di tempat saya bekerja:

"Apa yang sebenarnya terjadi di negeri anda, mengapa pemerintah dengan mudahnya membantai penduduk yang tidak berdosa?"

Dia menjawab dengan nada berat, ekspresi kekecewaan juga kekesalan:
"Itu adalah "upah toleransi" yang harus kami bayar."

"Apa maksud anda?" Tanya saya, dengan wajah tidak faham.

"Pembantaian yang sebenarnya bukanlah pembantaian yang dilakukan pemerintah kepada penduduk, tetapi pembantaian yang dilakukan kaum minoritas terhadap kaum mayoritas."

"Maksud anda?" ekspresi saya semakin tidak faham.

"Ya. Kaum yang mengusai pemerintahan kini (Syiah Nusairiah) adalah minoritas di Suriah, hanya kisaran 10% dari keseluruhan penduduk. Bertahun-tahun lamanya dengung toleransi dikumandangkan, dan kami (Suni Suriah) yang mayoritas 80% dari penduduk Suriah menyambut dan mempraktekkannya dengan suka cita. Sehingga kami pun merasa bahwa kamilah bangsa yang paling memiliki toleransi."

"Lalu apa hubungan toleransi dan pembantaian?"

"Sejak gaung toleransi itu, kami sudah menutup mata, tidak peduli siapa yang mengisi barak-barak strategis di pemerintahan dan kemiliteran, apakah dia dari minoritas atau mayoritas. Bahkan kekuasaan tertinggi dengan ringannya kami berikan kepada kelompok minoritas."
Sampai di sini, kesedihan dan kekecewaan diwajahnya semakin kentara.

"Ternyata, toleransi itu hanyalah gula-gula yang memperdaya. Golongan minoritas mengambil alih segala-galanya dari kami. Semasa Kami terbuai dengan toleransi, mereka membuat planing dan mengejar target-target. Sehingga tidak ada posisi strategis dipemerintahan maupun kemiliteran melainkan telah mereka isi."

"Itulah yang anda saksikan sekarang. Kami, penduduk mayoritas yang tidak memiliki apa-apa di negeri sendiri. Ketika tersadar, kami coba menuntut hak-hak kami sebagai rakyat mayoritas dan mempertanyakan imbalan toleransi selama ini, tetapi jawaban yang kami dapat justru moncong senjata dengan timah panas dan roket-roket pembantai, yang menumpahkan darah wanita-wanita dan anak-anak kami dan meluluh lantakkan tempat tinggal kami."

Mendengar penjelasannya itu saya hanya bisa terdiam. Berkelebat dengan cepat akan negeriku tercinta, timbul rasa was-was, dan hampir saja terlontar ungkapan, bahwa apa yang kalian alami, kini tengah berlangsung di negeri kami,,, tapi kalimat itu urung terucap...

Apakah ada benarnya apa yang diucapkannya?!

Semoga ungkapan ini dapat menghibur:
"Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berfikir." Q.S alHasyr:2

Wednesday, 19 December 2012

Islam & solusi Stres


              Kehidupan Manusia di masa lalu relatif stabil. Ketenangan adalah keseharian dalam mayoritas kehidupan mereka karena minimnya faktor-faktor yang mempengaruhi kejiwaan ketika itu.
- Tanggung jawab yang ditanggung ketika itu belum mengacaukan pikiran atau mempengaruhi aktivitasnya yang sederhana di perkebunan, rumah produksi atau di tempat perniagaan.

- Krisis kependudukan dan kemanusiaan ketika itu belum seperti keadaannya yang sekarang, di mana realita memaksa manusia menggunakan pola baru dalam berinteraksi dan memikul tanggung jawab.

- Rumah hunian dan perabotannya tidaklah seperti sekarang yang menghimpit, di mana sebagiannya bertumpuk dengan sebagian yang lain. Sebagaimana kondisi yang ada dibanyak negara di dunia.

- Bahkan musibah yang menimpa manusia  belumlah sehebat dan sedahsyat sekarang ini. Penyakit ketika itu belum lagi sekomlek dan dengan nama yang beraneka macam, yang menghantui manusia dan mengganggu kehidupannya, yang menjadikannya dibayang-bayangi ketakutan dan kecemasan, seiring lambatnya ditemukan obat penawarnya.

- Ketika itu peperangan tidak dapat membunuh ribuan manusia dalam waktu sekejap, sebagaimana teknologi dan instrumen perang yang ada seperti sekarang ini.

- Belum ada kejadian yang menelan korban mengerikan akibat kecelakaan lalu lintas baik darat, udara, air atau alat transportasi lain ketika itu.

- Dan di atas semua itu, krisis keuangan dan ekonomi membatasi manusia dan membalikkan keadaan berbagai umat dan bangsa dari kenikmatan dan kemewahan menjadi terpuruk dalam kefakiran dan kekurangan.
Serta perkara-perkara lain dari perubahan-perubahan, halangan-halangan dan problem yang berdampak negatif pada kehidupan manusia, yang selanjutnya mempengaruhi kemampuan dan kekuatan potensialnya.
          
              Itu artinya bahwa kemajuan teknologi yang disaksikan oleh dunia dan banyak berperan dalam memfasilitasi manusia, pada waktu yang sama justru memberatkan manusia itu sendiri dengan lebih banyak tanggung jawab dan kewajiban yang menyedot umur dan waktu mereka. Bahkan tak jarang datang bertubi-tubi sehingga tidak sanggup menghadapinya atau menyerah karena kontinuitasnya.
Dari sinilah mulai muncul tekanan kejiwaan (stres): yang berwujud pada ketidakmampuan dalam menghadapi tantangan atau memikul tanggung jawab yang sebenarnya terfasilitasi dan memiliki kemungkinan yang terbuka.

Dampak Stress (Tekanan Jiwa)

Sesungguhnya stres pada banyak keadaan menyebabkan penderitanya tidak stabil, yang pada akhirnya memunculkan dampak dan efek negatif dalam kehidupan dan pergaulannya. Di antara dampak yang terpenting adalah:

1.  Ada kalanya stres pada penderitanya melahirkan semacam prilaku kasar, keradikalan, kemarahan akan realita dan melihatnya dengan gelap mata. Ia berharap dapat keluar dari permasalahannya dan terkurangi tanggung jawabnya. Akan lebih parah jika tidak ada pendampingan yang dapat mengurangi sebagian beban dan kepedihannya.

2. Stres menyebabkan menarik diri dan menjauh dari kehidupan, menjauh dari kenyataan, bahkan menjadikan penderitanya tenggelam dalam dunia khayal, terkendala dalam metode berpikir dan mencari solusi. Engkau dapati ia mendebat perkara dengan solusi filosofis yang rumit atau penafsiran yang ganjil yang tidak diterima oleh para pemikir dan orang kebanyakan.

3. Tekanan jiwa mempengaruhi dalam bergaul dengan orang lain atau menjalin hubungan dengan mereka. Dimana penderita tekanan jiwa akan sulit membangun hubungan dalam bertetangga, persahabatan dengan teman kerjanya, atau dengan siswa lain jika itu di sekolah, dengan orang banyak jika dia seorang pegawai, dengan para pegawai jika dia seorang kepala bagian atau direktur, juga dengan seluruh strata masyarakat di lingkungannya. Ia merupakan ancaman dalam membangun masyarakat, kepribadian dan lembaga sosial yang lebih maju, meningkat dan mumpuni.

4. Stres (tekanan jiwa) memiliki pengaruh yang besar pada anggota tubuh penderita. Penyakit yang di derita kebanyakannya adalah cerminan dari hakikat kondisi kejiwaan yang tengah dialami penderita. Karenanya para dokter menyarankan pasiennya untuk menjauhi hal-hal yang menimbulkan gejolak kejiwaan. Terutama mereka yang terkena liver, gangguan jiwa, kolesterol, gangguan lambung, usus dan lain sebagainya. Karena kejiwaan memiliki peran yang penting dalam mengontrol penyakit-penyakit tersebut, baik dalam penyembuhan atau dalam memperburuk dan membuatnya semakin parah.

5. Stres (tekanan jiwa) berpengaruh negatif dalam produktivitas kerja dan kreasi. Karena penderitanya kehilangan penyelaras dalam berinteraksi dengan berbagai hal. Buyar kekuatan dan kemampuan. Terlebih lagi tidak dapat konsekuen dalam mencapai tujuan dan mencapai target.

Obat Stres (Tekanan Jiwa)

Dikarenakan siapa pun dapat terkena tekanan jiwa, yang berdampak pada timbulnya masalah atau penyakit, sudah seharusnya diberikan terapi penyembuhan dan pengobatan yang dapat mencegah atau membatasi agar tidak menjangkit pada diri. Di antara penyembuhan dan terapinya:

1- Bertakwa kepada Allah I dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal saleh. Firman-Nya I:
"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar." (QS. At-Thalaq: 2 )
Dan firman-Nya I:
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. At-Thalaq: 4)
Kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa tidak asing bagi kita. Allah I telah mengeluarkan mereka dari keterjebakan ketika setiap mereka menyebutkan amalan saleh yang dikerjakan ikhlas karena Allah I. Dengan amal mereka itulah mereka bertawasul kepada Allah I.

2. Menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Karena dua hal ini dapat menguatkan dalam menghadapi berbagai problema dan tanggung jawab sehingga dapat tegar dan sukses menghadapinya. Hal ini sebagaimana firman Allah I:
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."(QS. Al-Baqarah: 153 )
Seorang sahabat Nabi, Hudzaifah t berkata, "Jika Nabi r menghadapi perkara pelik, beliau melaksanakan shalat." [HR.Ahmad]

3. Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah I. Sadarilah bahwa Allah sematalah yang mengangkat kesulitan manusia. Sesungguhnya kesulitan meskipun berlangsung berlarut-larut senantiasa Allah iringkan dengan solusi dan kemudahan. Allah I berfirman melalui lisan Nabi Ya'kub u:
"...Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87 )
Nabi r bersabda dalam hadits Qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنَّ عَبْدِيْ بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

"Sesungguhnya Allah r berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku."
[HR.Turmudzi]
Benarlah perkataan seorang penyair:
Begitu pelik, tapi ketika aku kembalikan kepada Penciptaannya
Ia teratasi, padahal aku sangka tidak akan teratasi

4. Berzikir kepada Allah (mengingat Allah) dengan keyakinan, ucapan dan amal merupakan sebab untuk dapat keluar dari kemelut, memberi ketegaran jiwa dan ketenangan. Sebagaimana firman Allah I:
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS.Ar-Ro'd:28)

5. Kontinu senantiasa beristigfar (meminta ampun kepada Allah). Sesungguhnya hal ini adalah salah satu dari sebab kebahagiaan dan ketenangan; sebagaimana ia dapat pula mengeluarkan dari bencana, menghilangkan kegalauan dan kegelisahan. Sebagaimana sabda Rasulullah r,

مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

"Siapa yang kontinu beristigfar, Allah akan jadikan pada setiap kegalauannya solusi dan dari setiap kesulitan jalan keluar serta akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkan."
[HR.Abu Dawud, Ahmad dan Hakim]

6. Kembali kepada Allah dengan berdoa, karena doa dapat menghilangkan kegelisahan dan mengeluarkan dari kesusahan.

Hal ini sebagaimana hadits Abu
Sa'id al-Khudri : "Pada suatu hari Rasulullah r masuk masjid. Beliau mendapati seorang lelaki Anshar, yang dipanggil Abu Umamah. Beliau berkata,
"Wahai Abu Umamah, aku tidak melihatmu duduk di masjid melainkan sedang shalat."
"Kegelisahan dan hutang melilitku, wahai Rasulullah." Jawabnya.
"Maukah aku ajarkan suatu kalimat, jika engkau katakan Allah akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutangmu?!" Tawar Rasulullah.
"Tentu wahai Rasulullah!" Jawab lelaki itu.
"Bacalah ketika pagi dan petang:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
[ Allahumma Inni A'ûdzubika minalhammi walhazan wa a'ûdzubika minal'ajzi walkasal, wa a'ûdzubika minaljubni walbukhl, wa a'ûdzubika min ghalabatiddaini wa qohril rijal ]
Artinya:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepadamu dari kepengecutan dan kebakhilan. Aku berlindung kepadamu dari dari lilitan hutang dan penindasan orang."
[HR.Abu Dawud]

Di antara doa Nabi Musa u kepada Allah agar dilapangkan dadanya, dimudahkan urusannya, dihilangkan kegelisahan dan kesedihannya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah I melalui lisan Nabinya:
"Musa berkata: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku." (QS.Thâhâ:25-26)

7. Mengerjakan sebab-sebab yang dapat membantunya sukses dalam kehidupan lalu bertawakal kepada Allah I. Meminta kepada-Nya agar dapat mencapai  dan memperoleh hasil yang terbaik. Amal dan tawakal adalah dua hal yang saling berkaitan untuk menangkal tekanan jiwa dan efek negatif yang ditimbulkannya. Allah I berfirman,
"Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Thalaq: 3 )
Siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, tidak akan tersesat dan tidak akan celaka selamanya.

8. Tidak mengapa meminta bantuan para ahli dari dokter ahli jiwa atau selain mereka. Terkadang keadaan seseorang terasa begitu menghimpit, ia dikuasai rasa gundah, gelisah, sedih dan merana yang mengakibatkan tekanan pada dirinya. Jika berkonsultasi kepada yang lain, itu akan membantunya membuka pintu penting yang membuka cercahan cahaya dengan izin Allah.

Ringkas pembicaraan:
Bahwa tekanan jiwa pada akhirnya adalah buatan dan buah amal tangannya sendiri.
"(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya." (QS. Ali Imrah:182)
Karena timbulnya tekanan jiwa ini merupakan akibat dari kesalahan masa lalu yang bertumpuk dan membesar pada penderitanya. Dia tidak dapat mengolahnya dengan jalan yang benar hingga sampai pada puncaknya. Terasa begitu hebat di dalam diri dan memorak-porandakan harapan serta angan-angannya.

Setiap orang dapat mengalahkan tekanan ini dan menghindari pengaruh negatif yang timbul karenanya ketika sejak semula ia telah siap menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya. Hal itu diperoleh dari pendidikan imaniah (pendidikan keimanan) yang benar bagi generasi putra dan putri di rumah, masjid, sekolah, lembaga-lembaga bimbingan dan pusat-pusat pendidikan.

Karena seorang hamba ketika bergantung kepada Allah I dan dapat merasakan keagungan serta penguasaan-Nya atas sesuatu pada satu sisi, juga merasakan akan kelembutan dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya dari sisi yang lain, dia tidak akan merasa khawatir akan kesulitan dan tantangan, bahkan menjalani dan menghadapinya dengan ketegaran dan kesuksesan.
(sumber: islamhouse.com)

Tuesday, 18 December 2012

Puisi Sepi


Jebak Gulita



Aku tidak bisa tidur
Malam ini
Pikiranku tersesat dalam gelap
Mataku tetap terbelalak
Menunggu senyap
  Ooh... Beginilah nyatanya hidup
  Ringan di kata, derita tak elak dirasa
  Para pencerita berkata:
  "Hidup dijalani saja"
  "Hidup perjuangan adanya"
  "Hidup...bla bla bla katanya..."
        Di rumahnya, para pencerita belajar hidup
        Hidup yang sebenar hidup
        Tanpa tepuk tangan
        Tanpa jeda persiapan
        Tanpa moderator pengambil alih kesemrawutan
             Dirumahnya pencerita acap terhenyak
             Banyak peristiwa yang rumit ditangkap
             Tak  mudah diucap dan diungkap
             Pencerita bisa banyak bicara
            Tapi derita, kelu lidah dibuatnya
Malam semakin larut
Pikiran masih belum menemukan jalan pulang
Mata sudah mulai terbuai dalam senyap
     Apa mungkin ada benarnya kelakar para pencerita
     "Hidup ini dijalani saja"
     Toh pikiran memang seperti itu tercipta
     Ada terang juga masa redupnya
     Selama senyap masih dapat membujuk mata
     Selama gelap masih seperti apa adanya
     Datang dan pergi tanpa sepatah kata
     Masih banyak harap yang dapat dihiba
Malam semakin larut
Pikiran masih belum menemukan jalan pulang  
Mata terus menerawang gulita
        Tapi gelap ini tidak biasa
        Ia merusak indra dan membuat nista
        Banyak  perkara tak pantas yang sudah teraba
        Seperti jelaga penuh noda
        Berlumur dosa sehingga jijik dibuatnya  
Malam semakin larut
Pikiran masih belum menemukan jalan pulang
Mata labur kesat terasa
        Apa ini karena lama tak basuh muka
        Akibat larut dalam gulita
        Sehingga lupa menitikkan air mata 
        Dan tak lagi bisa berkaca
   Fikirku ternyata terbuai dalam gulita
   Tanpa reka menatap hari setelah lusa
   Mungkin sudah tiba saatnya
   Untuk keluar dari larut jebak gulita
       Ooh...Semoga gelap hanyalah noktah
       Garis pembatas mereka yang berlomba
       Untuk tiba di finis hampa derita
       Karena takkan dapat mencicip cahaya
       Mereka yang tak kenal gulita
            Malam semakin kepenghujungnya
            Itu artinya, seberkas cahaya menanti di sebaliknya
            Dan Fajar sebentar lagi tiba
 Besar harap di ujung kelopak
 Semoga masih dapat bangkit esok
 Bersimpuh duduk dan sujud kepadaNya


                                     Riyadh,KSA 9/12/12

        
     

Tuhan Sudah "tiada"

Tuhan sudah "tiada" katanya
Katanya posisi Tuhan kosong
Sehingga berbuatlah sekehendaknya
Karena Kita tidak akan dihisab
Itu kata si Boy yang tidak pernah mencicip solat
        Kata si Nur lain lagi
        Dia berhenti solat dan berdoa karena tidak kuat
        Sudah merasa cape solat  namun doa belum  di ijabat
Tapi keduanya sepakat
keduanya sepakat kalau umur akan berhenti di tempat
Keduanya sepakat hidup pasti sakit dan sekarat
Keduanya sepakat orang baik harus mendapat tempat
Keduanya sepakat tidak bisa bikin air dan udara yang dipakai megap-megap
         Tuhan sudah "tiada" katanya
         Si boy senang merasa bebas
         Bebas seperti hewan tanpa baju, celana dan rasa malu
         Merumput semaunya walau sudah ada warning "Danger"
         Apesnya, si Boy terkilir karena over menggilir
         Sehingga harus antri nyantri di pak Mantri
Si Nur lain lagi
Kini dia sibuk mengoleksi ayam putih dan ayam hitam
Dia jadi penadah bunga-bungaan dan kemenyan
Suka menyendiri dan wisata religi ke tempat sepi
Apesnya, si Nur masuk angin ketika semedi sampai harus diinjeksi
        Tuhan sudah "tiada" katanya
        Dalam sakit si Boy dan si Nur berfikir
        Apakah hidup ini akan berakhir
        Hanya karena salah semedi dan terkilir
        Ah... , terlalu remeh jika hidup hanya begini
        Tapi kalau memang jadi mati, bagaimana nasib si Putri
        Bagaimana dengan teori-teori yang belum dihargai
        Masuk dalam peti terkunci seorang diri
        Ah... , terlalu remeh jika hidup hanya begini
Si Boy sudah takut tak berbusana apalagi tak bercelana
Itu hasil akhir wejang pak Mantri
Si Nur terpaksa menjual semua koleksi
Karena takut bertemu lagi jarum injeksi
       Dalam sakit si Boy dan si Nur berfikir
       Betapa indahnya jika hidup tak berakhir
       Betapa indahnya jika masih bisa bertemu si Putri
       Betapa indahnya jika masih bisa menerima premi teori-teori
       Betapa indahnya masih bisa bertemu teman relasi 
       Tidak lenyap ditelan bumi
Kalau begitu Tuhan, aku koreksi
Karena Aku masih mau hidup setelah ini
Masih Inggin kembali menikmati seluruh yang pernah aku cicipi
Engkau jangan dulu mati
Biarkan aku mengejar mimpi memburu janji surga-Mu nanti


                                             Riyadh, KSA 17/12/12