(Belajar dari konflik Suriah)
Ketika konflik Suriah pecah dan terjadi pembantaian besar-besaran terhadap penduduk yang tidak berdosa, termasuk anak-anak dan wanita yang dilakukan pemerintah, saya sempat bertanya langsung kepada seorang teman berkebangsaan Suriah yang kebetulan berada dalam satu departemen di tempat saya bekerja:
"Apa yang sebenarnya terjadi di negeri anda, mengapa pemerintah dengan mudahnya membantai penduduk yang tidak berdosa?"
Dia menjawab dengan nada berat, ekspresi kekecewaan juga kekesalan:
"Itu adalah "upah toleransi" yang harus kami bayar."
"Apa maksud anda?" Tanya saya, dengan wajah tidak faham.
"Pembantaian yang sebenarnya bukanlah pembantaian yang dilakukan pemerintah kepada penduduk, tetapi pembantaian yang dilakukan kaum minoritas terhadap kaum mayoritas."
"Maksud anda?" ekspresi saya semakin tidak faham.
"Ya. Kaum yang mengusai pemerintahan kini (Syiah Nusairiah) adalah minoritas di Suriah, hanya kisaran 10% dari keseluruhan penduduk. Bertahun-tahun lamanya dengung toleransi dikumandangkan, dan kami (Suni Suriah) yang mayoritas 80% dari penduduk Suriah menyambut dan mempraktekkannya dengan suka cita. Sehingga kami pun merasa bahwa kamilah bangsa yang paling memiliki toleransi."
"Lalu apa hubungan toleransi dan pembantaian?"
"Sejak gaung toleransi itu, kami sudah menutup mata, tidak peduli siapa yang mengisi barak-barak strategis di pemerintahan dan kemiliteran, apakah dia dari minoritas atau mayoritas. Bahkan kekuasaan tertinggi dengan ringannya kami berikan kepada kelompok minoritas."
Sampai di sini, kesedihan dan kekecewaan diwajahnya semakin kentara.
"Ternyata, toleransi itu hanyalah gula-gula yang memperdaya. Golongan minoritas mengambil alih segala-galanya dari kami. Semasa Kami terbuai dengan toleransi, mereka membuat planing dan mengejar target-target. Sehingga tidak ada posisi strategis dipemerintahan maupun kemiliteran melainkan telah mereka isi."
"Itulah yang anda saksikan sekarang. Kami, penduduk mayoritas yang tidak memiliki apa-apa di negeri sendiri. Ketika tersadar, kami coba menuntut hak-hak kami sebagai rakyat mayoritas dan mempertanyakan imbalan toleransi selama ini, tetapi jawaban yang kami dapat justru moncong senjata dengan timah panas dan roket-roket pembantai, yang menumpahkan darah wanita-wanita dan anak-anak kami dan meluluh lantakkan tempat tinggal kami."
Mendengar penjelasannya itu saya hanya bisa terdiam. Berkelebat dengan cepat akan negeriku tercinta, timbul rasa was-was, dan hampir saja terlontar ungkapan, bahwa apa yang kalian alami, kini tengah berlangsung di negeri kami,,, tapi kalimat itu urung terucap...
Apakah ada benarnya apa yang diucapkannya?!
Semoga ungkapan ini dapat menghibur:
"Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berfikir." Q.S alHasyr:2
No comments:
Post a Comment